Fuzzy Logic System
Logika fuzzy yang pertama kali
diperkenalkan oleh Lotfi A. Zadeh, memiliki derajat keanggotaan dalam
rentang 0(nol) hingga 1(satu), berbeda dengan logika digital yang hanya
memiliki dua nilai yaitu 1(satu) atau 0(nol). Logika fuzzy digunakan
untuk menerjemahkan suatu besaran yang diekspresikan menggunakan bahasa (linguistic),
misalkan besaran kecepatan laju kendaraan yang diekspresikan dengan pelan,
agak cepat, cepat dan sangat cepat. Secara umum dalam sistem logika fuzzy
terdapat empat buah elemen dasar, yaitu:
-
Basis kaidah (rule base), yang berisi
aturan-aturan secara linguistik yang bersumber dari para pakar;
-
Suatu mekanisme pengambilan keputusan (inference
engine), yang memperagakan bagaimana para pakar mengambil suatu
keputusan dengan menerapkan pengetahuan (knowledge);
-
Proses fuzzifikasi (fuzzification),
yang mengubah besaran tegas (crisp) ke besaran fuzzy;
-
Proses defuzzifikasi (defuzzification),
yang mengubah besaran fuzzy hasil dari inference engine,
menjadi besaran tegas (crisp).
Fuzzy Membership
Jika X adalah suatu
kumpulan obyek-obyek dan x adalah elemen dari X. Maka
himpunan fuzzy A yang memiliki domain X didefinisikan
sebagai:
(1)
dimana nilai
berada dalam rentang 0 hingga 1.
Terdapat dua cara yang lazim dalam
merepresentasikan himpunan fuzzy, yang dapat dilihat pada Gambar 1,
yaitu :
1.
, jika X adalah merupakan koleksi objek diskrit.
2.
, jika X adalah merupakan koleksi objek kontinyu.

(a) (b)
Gambar 1. Fungsi keanggotaan dengan semesta
pembicaraan, (a).diskrit, (b).kontinyu.
Fuzzy Membership Operation
Seperti pada himpunan klasik,
himpunan fuzzy juga memiliki operasi himpunan yang sama yaitu
gabungan (union), irisan (intersection) dan komplemen.
Sebelumnya akan didefinisikan dulu mengenai himpunan bagian yang memiliki
peranan penting dalam himpunan fuzzy.
Gabungan dari dua buah himpunan
fuzzy A dan B adalah himpunan fuzzy C
ditulis sebagai
atau
, memiliki fungsi keanggotaan yang berhubungan dengan A
dan B yang didefinisikan sebagai berikut:

; (2)
dengan
adalah operator biner untuk fungsi S dan biasa
disebut sebagai operator T-conorm atau S-norm, yang memiliki
sifat-sifat sebagai berikut:
S(1,1) = 1, S(0,a)
= S(a,0) = a (boundary);
S(a,b)
£
S(c,d) jika a £
c dan b £
d (monotonicity);
S(a,b) = S(b,a)
(commutativity);
S(a,S(b,c)) =
S(S(a,b),c) (associativity).
Irisan dari dua buah himpunan
fuzzy A dan B adalah himpunan fuzzy C
dituliskan sebagai
atau
, memiliki fungsi keanggotaan yang berhubungan dengan A
dan B yang didefinisikan sebagai berikut:
;
,
(3)
dengan
adalah operator bineri untuk fungsi T, yang biasa
disebut sebagai operator T-norm, yang memiliki sifat-sifat sebagai
berikut:
T(0,0) = 0, T(a,1)
= T(1,a) = a (boundary);
T(a,b)
£
T(c,d) jika a £
c dan b £
d (monotonicity);
T(a,b) = T(b,a)
(commutativity);
T(a,T(b,c)) =
T(T(a,b),c) (associativity).
Fuzzy Set Membership Function
Fungsi-fungsi keanggotaan fuzzy
terparameterisasi satu dimensi yang umum digunakan diantaranya adalah:
1. Fungsi keanggotaan segitiga,
disifati oleh parameter{a,b,c} yang didefinisikan sebagai berikut:
(4)
bentuk yang lain dari persamaan di atas adalah
(5)
parameter {a,b,c} (dengan
a<b<c)
yang menentukan koordinat x dari ketiga sudut segitiga tersebut,
seperti terlihat pada Gambar 2(a).
2. Fungsi keanggotaan trapesium,
disifati oleh parameter{a,b,c,d} yang
didefinisikan sebagai berikut:
(6)
parameter {a,b,c,d}
(dengan a<b<c<d)
yang menentukan koordinat x dari keempat sudut trapesium tersebut,
seperti terlihat pada Gambar 2(b).
3. Fungsi keanggotaan Gaussian,
disifati oleh parameter {c,s}
yang didefinisikan sebagai berikut:
(7)
Fungsi keanggotaan Gauss ditentukan oleh
parameter c dan
s
yang menunjukan titik tengah dan lebar fungsi, seperti terlihat pada Gambar
2(c) .

Gambar 2. Kurva fungsi keanggotaan,
(a).segitiga(x;20,50.80), (b).trapesium (x;10,30,70,90),
(c).gaussian(x;50,15), (d).bell(x;10,2,50), (e).sigmoid (x;0.2,50)
dan (f).sigmoid(x;-0.2,50).
4. Fungsi keanggotaan generalized
bell, disifati oleh parameter {a,b,c} yang
didefinisikan sebagai berikut:
(8)
parameter b selalu positif, supaya kurva
menghadap kebawah, seperti terlihat pada Gambar 2(d).
5. Fungsi keanggotaan sigmoid,
disifati oleh parameter {a,c} yang didefinisikan sebagai
berikut:
(9)
parameter a digunakan untuk menentukan
kemiringan kurva pada saat x = c. Polaritas dari a akan
menentukan kurva itu kanan atau kiri terbuka, seperti terlihat pada Gambar
2.(d) dan 2.(e).
Fuzzy IF-Then Rule
Kaidah fuzzy If-Then (dikenal
juga sebagai kaidah fuzzy, implikasi fuzzy atau pernyataan
kondisi fuzzy) diasumsikan berbentuk:
Jika x adalah A maka y
adalah B (10)
Dengan A dan B adalah nilai
linguistik yang dinyatakan dengan himpunan fuzzy dalam semesta
pembicaraan X dan Y. Sering kali
“x adalah A”
disebut sebagai antecedent atau premise, sedangkan
“y adalah B”
disebut consequence atau conclusion.
Kaidah fuzzy if-then
“jika x adalah A maka
y adalah B” sering
kali disingkat dalam bentuk A®B
yang merupakan suatu bentuk relasi fuzzy biner R pada produk
ruang X ´
Y. Terdapat dua cara untuk menyatakan A®B,
yaitu sebagai A coupled with B dan A entails
B. Jika dinyatakan sebagai A coupled with B maka
didefinisikan sebagai berikut:

dengan adalah operator T-norm. Sedangkan jika dinyatakan
sebagai A entails B maka didefinisikan sebagai berikut:
- material implication:
; (11)
- propositional calculus:
; (12)
- extended propositional calculus:
; (13)
- generalization of modus ponens:
; (14)
dengan R=A®B
dan
adalah operator T-norm.
Fuzzy Reasoning
Kaidah dasar dalam menarik
kesimpulan dari dua nilai logika tradisional adalah modus ponens,
yaitu kesimpulan tentang nilai kebenaran pada B diambil berdasarkan
kebenaran pada A. Sebagai contoh, jika A diidentifikasi dengan
“tomat itu merah”
dan B dengan “tomat itu masak”,
kemudian jika benar kalau “tomat itu
merah” maka
“tomat itu masak”,
juga benar. Konsep ini digambarkan sebagai berikut:
|
premise 1 (kenyataan) |
: |
x adalah A, |
|
premise 2 (kaidah) |
: |
jika x adalah A maka y adalah
B. |
|
Consequence (kesimpulan) |
: |
y adalah B. |
Secara umum dalam melakukan
penalaran, modus ponens digunakan dengan cara pendekatan. Sebagai
contoh, jika ditemukan suatu kaidah implikasi yang sama dengan
“jika tomat itu merah maka tomat itu
masak”, misalnya
“tomat itu kurang lebih merah,”
maka dapat disimpulkan “tomat itu
kurang lebih masak”, hal ini dapat
dituliskan seperti berikut:
|
premise 1 (kenyataan) |
: |
x adalah A’,
|
|
premise 2 (kaidah) |
: |
jika x adalah A maka y adalah
B. |
|
Consequence (kesimpulan) |
: |
y adalah B’. |
Dengan A’adalah
dekat ke A dan B’adalah
dekat ke B. Ketika A, B, A’
dan B’adalah himpunan fuzzy
dari semesta yang berhubungan, maka penarikan kesimpulan seperti tersebut
dinamakan penalaran dengan pendekatan (approximate reasoning) yang
disebut juga dengan generalized modus ponens (GMP).
Untuk mendefinisikan penalaran
fuzzy, dimisalkan A, A’
dan B adalah himpunan fuzzy dari X, X dan Y,
dengan A®B
adalah suatu relasi R pada X´Y.
Kemudian himpunan fuzzy B diinduksikan oleh
“x adalah A”
dan kaidah fuzzy “jika x
adalah A maka y adalah B”
didefinisikan sebagai berikut:
(15)
atau sama dengan
(16)
Kaidah tunggal dengan antecedent
tunggal merupakan contoh yang paling sederhana dari formula pada Persamaan
(15) dan setelah disederhanakan, Persamaan (15) menghasilkan persamaan
berikut:
(17)
dengan persamaan ini, terlebih dahulu dicari
nilai maksimum dari
(daerah warna gelap pada bagian antecedent pada
Gambar 3), selanjutnya fungsi keanggotaan B’
adalah bagian warna gelap pada Gambar 3 yang merupakan fungsi keanggotaan
B yang terpotong oleh w.
Gambar 3. Penjelasan secara grafis dari GMP
menggunakan implikasi Mamdani dan komposisi max-min.
Kaidah fuzzy if-then
dengan dua antecedent, biasanya ditulis sebagai
“jika x adalah A dan
Y adalah B maka z adalah C”.
Masalah yang berhubungan dengan GMP dijelaskan dengan:
|
premise 1 (kenyataan) |
: |
x adalah A’
dan y adalah B’,
|
|
premise 2 (kaidah) |
: |
jika x adalah A dan y adalah
B maka z adalah C. |
|
Consequence (kesimpulan) |
: |
z adalah C’. |
Kaidah fuzzy pada premise
2 dapat dibawa ke bentuk sederhana yaitu
“A´B®C”
yang kemudian dapat diubah menjadi relasi fuzzy ternary Rm,
berdasarkan fungsi implikasi Mamdani yaitu:
(18)
C’
yang dihasilkan dapat dinyatakan sebagai

sehingga
(19)
dimana w1 dan w2
adalah nilai maksimum dari fungsi keanggotaan A
Ç
A’ dan B
Ç B’.
Secara umum w1 adalah merupakan derajat kompatibilitas
antara A dan A’,
demikian juga dengan w2. Karena bagian antecedent
pada kaidah fuzzy dibangun dengan penghubung
“and”,
maka w1Ùw2
disebut firing strength atau derajat pencapaian dari kaidah fuzzy,
yang menggambarkan derajat pencapaian dari kaidah untuk bagian antecedent.
Secara grafis, proses ini ditunjukan oleh Gambar 4, dimana MF yang
dihasilkan yaitu C’ adalah
sama dengan MF C yang dipotong oleh firing strength w.

Gambar 4. Aproximate reasoning untuk
antecedent jamak.
Untuk menjelaskan kaidah jamak,
biasanya menganggap sebagai gabungan dari relasi fuzzy yang
berhubungan dengan kaidah fuzzy. Karena itu, permasalahan GMP
dituliskan sebagai:
|
premise 1 (kenyataan) |
: |
x adalah A’
dan y adalah B’,
|
|
premise 2 (kaidah 1)
|
: |
jika x adalah A1 dan y
adalah B1 maka z adalah C1. |
|
Premise 3 (kaidah 2) |
: |
jika x adalah A2 dan y
adalah B2 maka z adalah C2. |
|
Consequence (kesimpulan) |
: |
z adalah C’. |
Proses di atas secara grafis dijelaskan pada
Gambar II.6.

Gambar 5. Penalaran fuzzy untuk kaidah
jamak dengan antecedent jamak.
Proses di atas dapat dibuktikan
dengan menggunakan dua buah relasi R1= A1´B1®C1
dan R2= A2´B2®C2,
karena operator
adalah bersifat distributif terhadap operator
È,
maka selanjutnya gabungan dari dua relasi tersebut menjadi
(20)
dimana
dan
adalah kesimpulan fuzzy dari kaidah 1 dan 2.
Referensi
Jang,
J.S.R., Sun, C.T., Mizutani,E., (1997), Neuro-Fuzzy and Soft Computing,
Prentice-Hall International, New Jersey, 1 – 89